Text
Tahbisan Istimewa
Pendeta Josia Hutabarat, terlahir sebagai putra kedua evangelis-guru Daniel Hutabarat dan ibunya Maria boru Siregar, di perkampungan warga Kristen pertama, Huta Dame, Silindung, pada tahun 1873. Ibunya adalah "putri angkat" Ephorus Nommensen, yang dibawanya dari Angkola. Dan ayahnya, Daniel, putra seorang datu-bolon (dukun sakti), adalah satu di antara empat evangelis- guru pertama di Silindung. Josia adalah satu di antara hanya sedikit putra Batak yang pernah belajar di Serninari Depok, mulai dari era 1880- 0-an. Guru-zending pertama yang ditugaskan Zending dalam rangka proyek "Tole das Evangelium der Simalungun" (penginjilan Simalungun), di Pematang Siantar, bursama atasannya Zendeling Ed. Muller pada tahun 1907. Menjadi guru pribumi pertama untuk Sekolah Anak Raja setempat pada tahun 1909, dan turut mendesain bentuk Kampung Kristen, Pematang Siantar sekitar tahun 1910-an. Dialah guru, dan kemudian pendeta yang mendapat TAHBISAN ISTIMEWA (tanpa mengikuti sekolah pendeta secara formal di seminari), yang mendirikan, membina dan mengembangkan jemaat Batakmission Medan, mulai tahun 1912. Karena otoriterisme pimpinan Zending pasca Nommensen di sekitar tahun 1925, pemutasiannya ditentang oleh warga jemaat Medan, yang akhirnya berbuah kemelut bahkan prahara, dan melahirkan gereja baru, seperti Mission Batak, HChB (kemudian menjadi HKI) dan banyak lainnya.
No other version available